Jumat, 11 Desember 2009

Perjanjian di Awal Waktu

Karya: Tjahjono Widijanto


Apalagi yang dapat kau lakukan jika pada malam pum

Kau enggan menyapa

Bukankah kita pernah sama-sama berjanji

Antara bulan dan matahari kelak takkan kita bedakan?

Kini menjelang hari-hari yang mugkin kelewat laju

Sudahkah engkau bisikkan pada anak cucu tentang perjanjian di awal waktu

Saat bulan jadi saksi atas kesepakatan

Yang telah lama kita tolerkan pada pusar bumi

Dan bilamana anak cucu sudah sama merubung

Kita akan mendingenginya satu-satu selepas magrib

Sebelum mereka terlelap sembari menghitung waktu

Menghabiskan hitungan jari satu-satu

Sebelum pada saatnya seperti kita, tak pernah usai

Berteka-teki

Cuma bersumpah menatap bulan berpasang-pasang

Yang kembali jadi saksi tentang akhir perjalanan

Mengulang lagi kesepakatan antara kita

S A L J U

Karya: Wing Kardjo


Ke manakah pergi

mencari matahari

ketika salju turun

pepohonan kehilangan daun


Ke manakah jalan

mencari lindungan

ketika tubuh kuyup

dan pintu tertutup


Ke manakah lagi

mencari api

ketika bara hati

padam, tak berarti


Ke manakah pergi

selain mencuci diri

U T A N G

Karya: Joko Pinubo


Orang kaya itu memberanikan diri bertamu ke sahabatnya

Yang dulu miskin tapi sekarang kaya raya.

Tak ada jejaknya menghibur orang kaya, pikirnya.

Orang kaya toh sering kesepian juga.


Baru saja melangkah ke ambang pintu,

Tuan rumah langsung menyergapnya: “Kau ke sini cuma ingin

Menagih?

Utang kan? Utang lama kan? Waktu aku masih miskin kan?

Aku akan lunasi sekarang, sekian lipat dari yang kupinjam.

Paham?”


Sambil menepuk-nepuk bahu tuan rumah yang pemberang

Tamu itu menjelaskan: “Jangan berburuk sangka. Saya ke sini

Cuma mau bilang bahwa utang itu sudah saya ikhlaskan.

Besok saya mungkin sudah mati. Paham?”

Tuan rumah terpana san merasa utangnya makin bertambah saja.


Tamu miskin itu sekarang berdiri di dalam cermin di hadapan Saya.

Ia mengucapkan hallo, dan saya merasa tertusuk oleh senyumnya.

Selasa, 17 November 2009

Resensi Film MERANTAU

Pemain: Iko Uwais, Siska Jesika, Christine Hakim, Donny Alamsyah, Yusuf Aulia, Laurent Buson, Alex Abbad, Mads Koudal.

Merantau adalah sebuah tradisi yang ada di Minangkabau, Sumatra Barat yang wajib dijalankan bagi setiap laki-laki yang tinggal di Minangkabau untuk pembelajaran diri. Tak terkecuali bagi Yuda (Iko Uwais), seorang pesilat Harimau. Ia harus merantau ke Jakarta, dan meninggalkan Minangkabau. Meski sang ibu, Wulan (Christine Hakim) melarangnya, tapi karena sudah bagian dari tradisi, maka Yuda tetap pergi meninggalkan ibunya, dan kakaknya Yayan (Donny Alamsyah) dengan tujuan menjadi guru silat.

Dari Minangkabau yang tenang dan penuh kenyamanan, Yuda harus berhadapan dengan kerasnya kehidupan di Jakarta. Tak kunjung menjadi guru silat, nasib pun mempertemukan dirinya dengan Adit (Yusuf Aulia) dan Astri (Siska Jesika), kakak beradik yang akhirnya menjadi korban sebuah organisasi human trafficking, pimpinan Ratger (Mads Koudal). Yuda pun tergerak hatinya untuk membantu Astri dan adiknya.

Yuda pun harus berhadapan dengan organisasi mafia, dan ia harus melawan kaki tangan Ratger, Luc (Laurent Buson) dan Johni (Alex Abbad) dan anak buahnya. Demi sebuah kebebasan, Yuda bersama Astri dan Adit melarikan diri dari para preman-preman dan mucikari yang terus mengejar mereka.

MERANTAU bisa menjadi jawaban atas 'kekekeringan' film-film Indonesia yang bermutu tapi juga tidak meninggalkan unsur entertainment di dalamnya. Film yang disutradarai oleh Gareth Evans, sutradara asal Inggris berusaha mengangkat salah satu kebudayaan asli Indonesia, yakni pencak silat ke dunia internasional.

Sebelum menggarap MERANTAU, Gareth terlebih dahulu melakukan research ke seluruh Indonesia mengenai pencak silat, dan pilihannya jatuh kepada pencak silat Harimau asal Minangkabau. Sebagai film dengan genre drama action, MERANTAU menyuguhkan adegan-adegan penuh action yang belum pernah ditayangkan di film laga lokal.

Dari sisi sinematografi, Gareth mampu menampilkan tontonan yang apik meski dengan budget 'terbatas', sekitar 15 miliar rupiah. Alhasil, adegan kejar-kejaran dan perkelahian melewati gang-gang sempit dan bahkan adegan ketika Yuda berkelahi di atas tumpukan-tumpukan bambu, terlihat sangat apik. Tak heran jika sebelum premier di Tanah Air, film ini telah mendapatkan standing applaus saat diputar di ajang film internasional di Korea dan Jogya beberapa waktu lalu.

Selain untuk mengangkat pencak silat, yang merupakan budaya asli Indonesia ke dunia internasional, MERANTAU ingin mengajak semua generasi muda Indonesia lebih mencintai dan bangga terhadap budaya asli Indonesia. Karena sesungguhnya, budaya asli Indonesia harus dipertahankan. Jika orang luar saja tertarik untuk membuat film dengan latar belakang budaya Tanah Air, kenapa kita yang lahir di Indonesia justru tidak bangga dengan budaya milik kita sendiri?

(Sumber : www.kapanlagi.com)

Senin, 12 Oktober 2009

MENTERI KEUANGAN MEMBEKUKAN 8 KAP

Atas dasar peraturan Menteri Keuangan No. 17/PMK.01/2008, Menteri Keuangan Sri Mulyani membekukan izin usaha dari 8 KAP karena belum memenuhi Standar Auditing (SA) - Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP). Dan 8 KAP yang dibekukan tersebut adalah :
  1. AP Drs. Basyiruddun Nur
  2. AP Drs. Hans Burhanuddin Makarao
  3. AP Drs. Dadi Muchidin
  4. KAP Drs. Dadi Muchidin
  5. KAP Matias Zakaria
  6. KAP Drs. Soejono
  7. KAP Drs. Abdul Azis B.
  8. KAP Drs. M. Isjwara
AP Drs. Basyiruddin Nur dibekukan karena dinyatakan belum memenuhi standar atas laporan keuangan konsolidasi PT Datascrip dan anak perusahaannya di tahun buku 2007. AP Drs. Hans Burhanuddin Makarao dibekukan selama 3 bulan lantaran belum memenuhi Standar Auditing (SA), Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) atas laporan keuangan klien mereka. Ia menangani laporan keuangan PT Samcon di tahun buku 2008. Laporan kedua AP ini dinilai Departemen Keuangan berpotensi mempengaruhi laporan auditor independent.

Sebab lain yang menjadikan beberapa AP dan KAP dibekukan oleh Menteri Keuangan adalah karena tidak menyampaikan laporan tahunan KAP tahun takwim. Ini terjadi pada KAP Drs. Dadi Muchidin yang tidak menyampaikan laporan tahunan KAP tahun takwim 2008. Alasan serupa juga terjadi pada KAP Matias Zakaria yang tidak menyampaikan laporan tahunan KAP tahun takwim 2007 dan 2008. Dan KAP Drs. Soejono tidak melaporkan laporan tahunan KAP tahun takwim dengan jangka waktu yang lebih lama, yaitu sejak 2005-2008.

KAP lain yang dibekukan karena tidak menyampaikan laporan tahunan KAP tahun takwim adalah KAP Drs. Abdul Azis B., KAP M. Isjwara, dan AP Drs. Dadi Muchidin. Para KAP ini dibekukan selama 3 bulan setelah sebelumnya diberikan peringatan sebanyak 3 kali dalam jangka waktu 48 bulan terakhir dan sampai saat ini.
(Sumber : inilah.com/dokumen)

ETIKA KAP DALAM MENERIMA BINGKISAN PARSEL

Setiap menjelang Hari Raya Idul Fitri, di dalam beberapa kalangan masyarakat seperti pengusaha, KAP, dan pejabat terdapat kebiasaan yang mungkin sukar untuk dihilangkan yaitu saling mengirim bingkisan parsel. Karena di Indonesia sedang banyak terjadi kasus korupsi, pemerintah mengalami kekhawatiran kebiasaan mengirim parsel dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan tindakan suap. Dan hal termasuk di dalam UU Pemberantasan Korupsi No. 20 Thn 2001 Pasal 12b Ayat 1.

Dikalangan KAP pun hal ini dapat terjadi. Mengirim dan menerima parsel merupakan hal yang wajar-wajar saja. Tetapi semua ini akan menjadi tidak wajar jika seorang auditor memang menerima parsel untuk tujuan suap-menyuap dari seorang pengusaha atau pejabat. Semua ini tergantung kepada auditor itu sendiri, jika ia mampu mengendalikan diri dan terus bersikap independent sang auditor tidak akan mudah terpengaruh. Dan ia bisa menjaga nama baiknya dan KAPnya.

Sabtu, 10 Oktober 2009

MAKAN SOTO DI WARTEG MITA

Di Jl. Akses UI terdapat sebuah warteg yang bernama WARTEG MITA yang sesuai dengan nama pemiliknya yaitu Bu Mita. Lokasinya terletak sebelum Kampus G Gunadarma dari arah Pal, sebenarnya warteg ini sama saja seperti warteg yang lain. Tetapi warteg menyediakan soto yang sangat enak seperti soto ayam, soto daging, dan soto babat. Dan warteg ini berdiri sudah sangat lama, banyak mahasiswa Gunadarma yang suka makan disana.

Di warteg tersebut memiliki sekitar 10 pegawai, dan masing-masing mempunyai tugasnya seperti menyiapkan minuman, menyiapkan soto yang di pesan, dan melayani pelanggan yang ingin makan selain soto. Harga dari soto tersebut memang relatif mahal sekitar Rp 8.500/porsi. Bagi mahasiswa yang memiliki uang lebih banyak yang memesan soto. Soto yang paling sering dipesan adalah Soto Ayam. Di samping rasanya yang enak dangingnya pun banyak. Dan saat memesan soto pelanggan harus menunggu agak lama.

Untuk mahasiswa yang hanya memiliki uang pas-pasan dapat memesan makanan lainnya yang harganya relatif lebih murah. Dan bukan mahasiswa saja yang menjadi pelanggan warteg tersebut ada juga supir angkot yang apabila sedang istirahat ia makan disana. Dan saya sebagai salah satu pelanggan yang terkadang memesan soto merasa sangat puas. Jika Anda penasaran silahkan datang ke WARTEG MITA.