Jumat, 11 Desember 2009

BALADA IBU YANG DIBUNUH

Karya: W.S.Rendra


Ibu musang di lindung pohon tua meliang

Bayinya dua ditinggla mati lakinya.


Bualan sabit terkait malam memberita datangnya

Waktu makan bayi-bayinya mungil sayang.


Matanya berkata pamitan, bertolaklah ia

Dirasukinya dusun-dusun, semak-semak, taruhan harian atas nyawa.


Burung kolik menyanyikan berita panas dendam warga desa

Menggetari ujung bulu-bulunya tapi dikibaskannya juga.


Membubung juga nyanyi kolik sampai mati tiba-tiba

Oleh lengking pekik yang lebih menggigitkan pucuk-pucuk daun

Tertangkap musang betina dibunuh esok harinya.


Tiada pulang ia yang mesti rampas rejeki hariannya

Ibu yang baik, matinya baik, pada bangkainya gugur pula dedaun tua.


Tiada tahu akan meraplah kolik meratap juga

Dan bayi-bayinya bertanya akan bunda pada angin tenggara


Lalu satu ketika di pohon tua meliang

Matilah anak-anak musang, mati dua-duanya.


Dan jalannya semua peristiwa

Tanpa dukungan satu dosa, tanpa.

Gadis Peminta-minta

Karya: Toto Sudarto Bachtiar


Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil

Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka

Tengadah padaku, pada bulan merah jambu

Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa

Ingi aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil

Pulang ke bawah jembatan yang melulur sosok

Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan

Gembira dari kemayaan riang.

Duniamu yang lebih tinggi dari menara katedral

Mekintas-lintas di atas air kotor, tapi yang begitu kau hafal

Jiwa begitu murni, terlalu murni

Untuk bisa membagi dukaku.

Kalau kau mati, gadis kecil berkaleng kecil

Bulan di atas itu, tak ada yang punya

Dan kotaku, ah, kotaku

Hidupnya tak punya tanda.

Aku Ingin

Karya: Sapardi Djoko Damono


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,

Dengan kata yang tak sempat kuucapkan

Kayu kepada api yang menjadikannya abu,


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,

Dengan isyarat yang sempat disampaikan

Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Sketsa

Karya: Tjahjono Widijanto


Guratan ini selalu abadi sepanjang abad melahirkan sederetan pertanyaan yang diuntai di awal subuh hingga mimpi mulai merayap dan kita tidak bisa selain harus serta menunggu hari-hari ditaburi embun bersama-sama sajak-sajak yang terus ditulis meski hari-hari tidak lagi sudi menerimanya tapi kita selalu tetap dengan sebilah puisi

Perjanjian di Awal Waktu

Karya: Tjahjono Widijanto


Apalagi yang dapat kau lakukan jika pada malam pum

Kau enggan menyapa

Bukankah kita pernah sama-sama berjanji

Antara bulan dan matahari kelak takkan kita bedakan?

Kini menjelang hari-hari yang mugkin kelewat laju

Sudahkah engkau bisikkan pada anak cucu tentang perjanjian di awal waktu

Saat bulan jadi saksi atas kesepakatan

Yang telah lama kita tolerkan pada pusar bumi

Dan bilamana anak cucu sudah sama merubung

Kita akan mendingenginya satu-satu selepas magrib

Sebelum mereka terlelap sembari menghitung waktu

Menghabiskan hitungan jari satu-satu

Sebelum pada saatnya seperti kita, tak pernah usai

Berteka-teki

Cuma bersumpah menatap bulan berpasang-pasang

Yang kembali jadi saksi tentang akhir perjalanan

Mengulang lagi kesepakatan antara kita

S A L J U

Karya: Wing Kardjo


Ke manakah pergi

mencari matahari

ketika salju turun

pepohonan kehilangan daun


Ke manakah jalan

mencari lindungan

ketika tubuh kuyup

dan pintu tertutup


Ke manakah lagi

mencari api

ketika bara hati

padam, tak berarti


Ke manakah pergi

selain mencuci diri

U T A N G

Karya: Joko Pinubo


Orang kaya itu memberanikan diri bertamu ke sahabatnya

Yang dulu miskin tapi sekarang kaya raya.

Tak ada jejaknya menghibur orang kaya, pikirnya.

Orang kaya toh sering kesepian juga.


Baru saja melangkah ke ambang pintu,

Tuan rumah langsung menyergapnya: “Kau ke sini cuma ingin

Menagih?

Utang kan? Utang lama kan? Waktu aku masih miskin kan?

Aku akan lunasi sekarang, sekian lipat dari yang kupinjam.

Paham?”


Sambil menepuk-nepuk bahu tuan rumah yang pemberang

Tamu itu menjelaskan: “Jangan berburuk sangka. Saya ke sini

Cuma mau bilang bahwa utang itu sudah saya ikhlaskan.

Besok saya mungkin sudah mati. Paham?”

Tuan rumah terpana san merasa utangnya makin bertambah saja.


Tamu miskin itu sekarang berdiri di dalam cermin di hadapan Saya.

Ia mengucapkan hallo, dan saya merasa tertusuk oleh senyumnya.