Jumat, 11 Desember 2009

Gadis Peminta-minta

Karya: Toto Sudarto Bachtiar


Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil

Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka

Tengadah padaku, pada bulan merah jambu

Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa

Ingi aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil

Pulang ke bawah jembatan yang melulur sosok

Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan

Gembira dari kemayaan riang.

Duniamu yang lebih tinggi dari menara katedral

Mekintas-lintas di atas air kotor, tapi yang begitu kau hafal

Jiwa begitu murni, terlalu murni

Untuk bisa membagi dukaku.

Kalau kau mati, gadis kecil berkaleng kecil

Bulan di atas itu, tak ada yang punya

Dan kotaku, ah, kotaku

Hidupnya tak punya tanda.

Aku Ingin

Karya: Sapardi Djoko Damono


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,

Dengan kata yang tak sempat kuucapkan

Kayu kepada api yang menjadikannya abu,


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,

Dengan isyarat yang sempat disampaikan

Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Sketsa

Karya: Tjahjono Widijanto


Guratan ini selalu abadi sepanjang abad melahirkan sederetan pertanyaan yang diuntai di awal subuh hingga mimpi mulai merayap dan kita tidak bisa selain harus serta menunggu hari-hari ditaburi embun bersama-sama sajak-sajak yang terus ditulis meski hari-hari tidak lagi sudi menerimanya tapi kita selalu tetap dengan sebilah puisi

Perjanjian di Awal Waktu

Karya: Tjahjono Widijanto


Apalagi yang dapat kau lakukan jika pada malam pum

Kau enggan menyapa

Bukankah kita pernah sama-sama berjanji

Antara bulan dan matahari kelak takkan kita bedakan?

Kini menjelang hari-hari yang mugkin kelewat laju

Sudahkah engkau bisikkan pada anak cucu tentang perjanjian di awal waktu

Saat bulan jadi saksi atas kesepakatan

Yang telah lama kita tolerkan pada pusar bumi

Dan bilamana anak cucu sudah sama merubung

Kita akan mendingenginya satu-satu selepas magrib

Sebelum mereka terlelap sembari menghitung waktu

Menghabiskan hitungan jari satu-satu

Sebelum pada saatnya seperti kita, tak pernah usai

Berteka-teki

Cuma bersumpah menatap bulan berpasang-pasang

Yang kembali jadi saksi tentang akhir perjalanan

Mengulang lagi kesepakatan antara kita

S A L J U

Karya: Wing Kardjo


Ke manakah pergi

mencari matahari

ketika salju turun

pepohonan kehilangan daun


Ke manakah jalan

mencari lindungan

ketika tubuh kuyup

dan pintu tertutup


Ke manakah lagi

mencari api

ketika bara hati

padam, tak berarti


Ke manakah pergi

selain mencuci diri

U T A N G

Karya: Joko Pinubo


Orang kaya itu memberanikan diri bertamu ke sahabatnya

Yang dulu miskin tapi sekarang kaya raya.

Tak ada jejaknya menghibur orang kaya, pikirnya.

Orang kaya toh sering kesepian juga.


Baru saja melangkah ke ambang pintu,

Tuan rumah langsung menyergapnya: “Kau ke sini cuma ingin

Menagih?

Utang kan? Utang lama kan? Waktu aku masih miskin kan?

Aku akan lunasi sekarang, sekian lipat dari yang kupinjam.

Paham?”


Sambil menepuk-nepuk bahu tuan rumah yang pemberang

Tamu itu menjelaskan: “Jangan berburuk sangka. Saya ke sini

Cuma mau bilang bahwa utang itu sudah saya ikhlaskan.

Besok saya mungkin sudah mati. Paham?”

Tuan rumah terpana san merasa utangnya makin bertambah saja.


Tamu miskin itu sekarang berdiri di dalam cermin di hadapan Saya.

Ia mengucapkan hallo, dan saya merasa tertusuk oleh senyumnya.

Selasa, 17 November 2009

Resensi Film MERANTAU

Pemain: Iko Uwais, Siska Jesika, Christine Hakim, Donny Alamsyah, Yusuf Aulia, Laurent Buson, Alex Abbad, Mads Koudal.

Merantau adalah sebuah tradisi yang ada di Minangkabau, Sumatra Barat yang wajib dijalankan bagi setiap laki-laki yang tinggal di Minangkabau untuk pembelajaran diri. Tak terkecuali bagi Yuda (Iko Uwais), seorang pesilat Harimau. Ia harus merantau ke Jakarta, dan meninggalkan Minangkabau. Meski sang ibu, Wulan (Christine Hakim) melarangnya, tapi karena sudah bagian dari tradisi, maka Yuda tetap pergi meninggalkan ibunya, dan kakaknya Yayan (Donny Alamsyah) dengan tujuan menjadi guru silat.

Dari Minangkabau yang tenang dan penuh kenyamanan, Yuda harus berhadapan dengan kerasnya kehidupan di Jakarta. Tak kunjung menjadi guru silat, nasib pun mempertemukan dirinya dengan Adit (Yusuf Aulia) dan Astri (Siska Jesika), kakak beradik yang akhirnya menjadi korban sebuah organisasi human trafficking, pimpinan Ratger (Mads Koudal). Yuda pun tergerak hatinya untuk membantu Astri dan adiknya.

Yuda pun harus berhadapan dengan organisasi mafia, dan ia harus melawan kaki tangan Ratger, Luc (Laurent Buson) dan Johni (Alex Abbad) dan anak buahnya. Demi sebuah kebebasan, Yuda bersama Astri dan Adit melarikan diri dari para preman-preman dan mucikari yang terus mengejar mereka.

MERANTAU bisa menjadi jawaban atas 'kekekeringan' film-film Indonesia yang bermutu tapi juga tidak meninggalkan unsur entertainment di dalamnya. Film yang disutradarai oleh Gareth Evans, sutradara asal Inggris berusaha mengangkat salah satu kebudayaan asli Indonesia, yakni pencak silat ke dunia internasional.

Sebelum menggarap MERANTAU, Gareth terlebih dahulu melakukan research ke seluruh Indonesia mengenai pencak silat, dan pilihannya jatuh kepada pencak silat Harimau asal Minangkabau. Sebagai film dengan genre drama action, MERANTAU menyuguhkan adegan-adegan penuh action yang belum pernah ditayangkan di film laga lokal.

Dari sisi sinematografi, Gareth mampu menampilkan tontonan yang apik meski dengan budget 'terbatas', sekitar 15 miliar rupiah. Alhasil, adegan kejar-kejaran dan perkelahian melewati gang-gang sempit dan bahkan adegan ketika Yuda berkelahi di atas tumpukan-tumpukan bambu, terlihat sangat apik. Tak heran jika sebelum premier di Tanah Air, film ini telah mendapatkan standing applaus saat diputar di ajang film internasional di Korea dan Jogya beberapa waktu lalu.

Selain untuk mengangkat pencak silat, yang merupakan budaya asli Indonesia ke dunia internasional, MERANTAU ingin mengajak semua generasi muda Indonesia lebih mencintai dan bangga terhadap budaya asli Indonesia. Karena sesungguhnya, budaya asli Indonesia harus dipertahankan. Jika orang luar saja tertarik untuk membuat film dengan latar belakang budaya Tanah Air, kenapa kita yang lahir di Indonesia justru tidak bangga dengan budaya milik kita sendiri?

(Sumber : www.kapanlagi.com)